Monisa bukan hanya makam Sultan Abdul Aziz Syah yang merupakan raja Aceh yang berjasa dalam mempertahankan kedaulatan wilayah, tetapi juga simbol perjuangan dan warisan budaya Aceh Timur yang patut dilestarikan. Monisa (Monumen Islam Asia Tenggara) adalah situs bersejarah di Aceh Timur yang memperingati kerajaan Islam pertama di Asia Tenggara, sementara Sultan Abdul Aziz Syah (juga disebut Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah) adalah pendirinya dengan makam di Gampong Bandrong, Kecamatan Peureulak. Situs ini mencakup masjid, dua balai pengajian, dayah Sultan Abdul Aziz, serta makam tambahan seperti Tengku Malem Panyang (qadi kerajaan) dan Panglima Sayed Sulaiman.
Gampong Bandrong (atau sebelumnya dikenal Banda Khalifah Bandrong), dusun Badar Khalifah, yang menjadi pusat Kerajaan Bandar Khalifah Peureulak. Pembangunan Monisa muncul dari seminar sejarah Islam Nusantara di Kuala Simpang tahun 1980, yang menyimpulkan Peureulak sebagai kerajaan Islam tertua di Asia Tenggara sejak 840 M (225 H). Monumen diresmikan oleh Ali Hasjmy untuk memugar situs terbengkalai, menjadi pusat penelitian Islam Asia Tenggara dan dakwah. Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, keturunan Arab, mendirikan Kerajaan Peureulak tahun 840-864 M (225-249 H), mengubah ibu kota menjadi Bandar Khalifah. Ia memerintah Dinasti Sayed Maulana Abdul Aziz Syah hingga 918 M (305 H), memadukan Islam dengan tradisi lokal melalui pedagang Arab-Persia. Makamnya bersama istri Putri Meurah Mahdum Khudawi (anak Syahir Nuwi) memiliki batu nisan berangka Hijriah, bukti masuknya Islam pertama ke Nusantara via Aceh.
Masyarakat lokal rutin ziarah, seperti kenduri tahunan, Potensi pengembangan termasuk pusat studi Islam Asia Tenggara, didukung tokoh seperti Dr. Hilmi Bakar Almascaty. Kerajaan Peureulak (atau Perlak) berperan krusial sebagai kerajaan Islam tertua di Nusantara sejak 840 M, mendahului Samudra Pasai, dengan memfasilitasi masuknya Islam melalui perdagangan dan dakwah langsung dari Arab. Didirikan pada 1 Muharram 225 H (840 M) oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Aziz Shah, keturunan Arab dari ayahnya Ali bin Muhammad bin Ja’far Shadiq yang tiba di Peureulak sekitar 790 M bersama rombongan 100 dakwah dari Khalifah Harun Ar-Rasyid.
Letak strategis di Selat Malaka menjadikannya pelabuhan utama yang dikunjungi pedagang Muslim Arab, Persia, dan India, memicu Islamisasi awal melalui interaksi dan perkawinan campur. Kerajaan ini menjadi pusat dakwah dengan lembaga pendidikan Islam tertua di Asia Tenggara, seperti dayah dan balai pengajian, yang mendidik ulama dan menyebarkan ajaran Islam ke pedalaman Aceh Timur. Perdagangan kayu perlak untuk kapal, mata uang Islam (dirham emas, kupang perak), dan stempel kerajaan bertuliskan Arab memperkuat identitas Islam, menarik lebih banyak pedagang Muslim.
Peureulak meletakkan fondasi kerajaan-kerajaan Islam selanjutnya di Aceh seperti Pasai (1267 M), Pedir, Daya, dan Aceh Darussalam, melalui hubungan diplomatik seperti pernikahan dengan Pasai. Warisannya diakui dalam naskah kuno seperti Hikayat Aceh dan silsilah raja-raja Perlak-Pasai, membuktikan peran sebagai "titik nol" Islam Nusantara. Kesultanan Peureulak dan Samudera Pasai memiliki hubungan erat melalui ikatan pernikahan politik dan akhirnya penyatuan wilayah pada akhir abad ke-13. Sultan ke-17 Peureulak, Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II (1230-1267 M), menikahkan putrinya Putri Ganggang (atau Ganggang Sari) dengan Sultan Malik al-Saleh pendiri Samudera Pasai (1267-1297 M). Pernikahan ini memperkuat aliansi kedua kerajaan tetangga di pantai timur Aceh, memfasilitasi perdagangan dan penyebaran Islam. Setelah wafatnya Sultan terakhir Peureulak, Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267-1292 M), wilayah Peureulak diserap oleh Samudera Pasai di bawah Sultan Muhammad Malik az-Zahir, putra Malik al-Saleh dari pernikahan tersebut. Penyatuan ini menandai akhir kedaulatan Peureulak dan perluasan pengaruh Pasai sebagai pusat Islam Nusantara. Hubungan ini melanjutkan tradisi Islamisasi Aceh, dengan Peureulak sebagai pelopor yang meletakkan dasar bagi kejayaan Pasai dalam perdagangan internasional dan dakwah.
Melalui SIPAN (Sistem Informasi Pariwisata Aceh Timur), wisatawan dapat memperoleh informasi lengkap mengenai Makam Sultan Maulana Malek Alaidin Abd. Syah, mulai dari lokasi, akses perjalanan, hingga berbagai destinasi wisata menarik lainnya di Kabupaten Aceh Timur. Sebagai platform informasi pariwisata resmi, SIPAN berkomitmen menyajikan informasi yang akurat, terpercaya, dan mudah diakses untuk membantu wisatawan merencanakan perjalanan dengan lebih nyaman. Let SIPAN Lead the Way dan jelajahi pesona alam Aceh Timur yang menawarkan pengalaman wisata pantai yang indah, nyaman, dan tak terlupakan.
Diskusikan rencana perjalanan Anda, akomodasi, atau mintalah penawaran khusus rute Aceh Timur kepada spesialis perjalanan kami.